Mendampingi Lora, tak cuma bermakna memenuhi amanah almarhum kedua orangtuanya tercinta. Tapi lebih dari pada itu, manakala melihat senyum terukir di bibirnya, Hanna berharap dapat membat orangtuanya tersenyum pula di surga sana. Namun, malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih dalam genggaman. Belum lagi terjawab seribu satu misteri kehidupan adiknya, kematian telah menjemputnya. Dan kini, kehangatan rumah itu memudar berganti dengan tirai kesunyian. Meski kepedihan berkawan akrab dengan kesepian atinya, namun masih menyisakan asa untuk menyingkap tabir misteri itu. Selanjutnya Hanna melewati hari-harinya dalam balutan emosi yang membetot perasaannya. Bayangan masa lalu dan naluri fitrahnya saling berteriak berunjuk rasa. Betapa tak mudah bagi wanita malang, mandiri dan sukses seperti dirinya menghalau kesedihan sekaligus kesunyian yang mendera jiwa. Adakah pelangi menyambutnya setelah hujan badai memporak-porandakan atinya? Dan, inikah jalan yang harus ditempuhnya agar senyum kebahagiaan bertaut dengan sekeping hati yang menghuni puri hatinya? |