Kamal berwajah tampan. Walau tubuhnya kurus kerempeng dan berewokan, tapi ia memiliki senyum yang memikat. Kini ia kembali ke Jakarta untuk rujuk dengan Hanah, gadis cantik pemilik Rumah Biru, yang sudah ditinggalkannya selama 15 tahun. Alasannya? Ia tidak suka Hanah berprofesi sebagai model tanpa busana untuk seniman lokal maupun internasional yang kerap diterimanya di Rumah Biru. Banyak masalah yang harus ia selesaikan di Jakarta, termasuk berharap Hanah masih menunggu setia di Rumah Biru dan mau menerima dirinya kembali. Ternyata Hanah akan segera menikah, dan Kamal pun sedikit terusik dengan kehadiran Nur Azizah, gadis manis sarjana Ilmu Al Quran yang menaruh hati padanya. Semua kekisruhan ini membuat penyakit pusing Kamal kembali kambuh. Lelaki itu roboh ditepi jalan, dan selama tak sadarkan diri ia menemukan negeri yang suci-berseri diatas langit, negeri yang penguasanya tidak pernah mematikan majalah yang ia bangun, negeri dimana seseorang yang dicintainya tidak menjadikan alasan untuk tidak berpakaian sebagai kebebasan berekspresi, dan negeri yang masyarakatnya tidak menghalalkan cara main hakim sendiri terhadap apa pun. Akankah Kamal bahagia? |