"Bung Ilham, aku pusing," "Tolonglah bimbing aku keluar dari kamar mandi," pintanya. Suaranya gemetar oleh desakan-desakan dari dalam dirinya yang masih terpendam. Dengus napasnya menderu-deru. Matanya telah menjadi sayu. Tatapan mata itu seperti memanggil-manggil aku. Aku terpaku di tempat semula. Lalu, aku mundur selangkah demi selangkah. Mataku tidak dusta. Tetapi, wajah yang berminyak dan penuh harap itu, serta suara menggigilnya itu, menakutkan aku. Mendadak aku ingat pesan Halim, sahabatku yang politikus, agar aku tidak berselingkuh. Jujur kuakui, aku adalah suami yang 'rajin' membajak sawahku bila istriku di rumah. Bagiku, bercinta adalah inspirasi dan selalu memberi semangat hidup. Bercinta bagiku, adalah juga keindahan. Kini, istriku tidak di rumah, dan dia menawarkan sawah yang siap untuk dibajak. Tapi, jelas, ajakannya itu bukan cinta! Apakah cinta bisa kita dapatkan pada saat bercinta? Apakah aku mesti berselingkuh dari istriku untuk mendapatkan cintanya? |