".. membaca cerpen ini, maka kita akan mendapatkan kesempatan untuk memiliki pengetahuan komparatif antara Aceh den Luar Aceh. Apakah yang dilakukan orang Aceh untuk keluar dari kemiskinan sama halnya orang Luar Aceh? Bagaimana mindset perempuan Aceh dalam "menyelamatkan keturunan" sama halnya dengan kaum marjinal di Luar Aceh? Apakah yang dilakukan perempuan Aceh dan Laur Aceh ketika berhadapan dengan pelecehan seksual hingga pemerkosaan dan penyiksaan yang dilakukan kaum serdadu? Bagaimana sikap masyarakat terhadap korban pemerkosaan di Aceh danluar Aceh? Kesemua itu terjelaskan dalam konstruk-konstruk sosial yang dibangun oleh Thamrin. Apalagi, Thamrin mendirikan semua konstruk sosial itu di atas fondasi realiisme sosial—meskipun dalam bentuknya yang lunak. Namun, pahit-getir sebagai perantau Aceh yang lintas wilayah dan zaman politik telah memperkaya dan memperkuat karya ini. Memang salah satu nilai lebih dari kumpulan cerpen adalah keanekaan kisah yang memberikan keanekaan pengetahuan pembacanya."Otto Syamsuddin Ishak --------------------- Di Metro TV, 23 Januari 2004, saya mengatakan: Sungguh saya tidak mengerti mengapa bencana yang begitu besar memukul suku bangsa yang paling saya hormati. Aceh adalah suku bangsa pertama yang menyambut kemerdekaan Republik Indonesia. Bukan hanya membelikan hadiah pesawat Dakota, Aceh tak pernah kalah oleh siapa pun. Orang-orang Aceh punya keberanian individu, lainnya hanya pintar tawuran. Setiap kali ada yang datang dari suku Aceh saya selalu minta maaf sebagai orang Jawa. Sudah lebih 100 tahun orang Jawa memerangi Aceh. Saya ikut-ikutan bersalah. Kalau ada mahkamah pengadilan perang, Megawawati pun bisa diseret karena ia pun ikut mengirim tentara ke Aceh. Mengapa menghadapi mereka dengan senjata? Orang Aceh pun bisa diajak bicara. Karena itu pula, saya menghargai penerbitan karya sastra yang membela Aceh seperti Meutia Sudah Henti Bertanya ini. Pramoedya Ananta Toer Bojonggede, 13 Juni 2005. |