| Dalam ruang naskah drama ini, ‘pertemuan’ tiga tokoh dunia dari bidang dan zaman dan negaranya masing-masing--Adolf Hitler (Austria, Jerman, 1889-1945), Virginia Woolf (Inggris, 1882-1941) dan Kartini (Indonesia, 1879-1904) seakan-akan mereka dalam waktu dan tempat yang sama untuk berkomunikasi. Itu semua karena berdasarkan hasil riset, ada hal-hal terutama melalui teks yang mempertemukan perasaan, pikiran dan kalimat-kalimat mereka baik melalui karya fiksi, surat-surat, maupun biografi akurat, sehingga mengesankan di antara mereka terjadi sebuah dialog yang berkesinambungan tanpa sengaja. Daun-daun Gugur di Tepi Pagi menampilkan satu babak kegelisahan jiwa manusia yang bercita-cita menjadi dirinya sendiri yang merasa sudah menemukan visi hidup sesuai bakat dan minat. Ini terutama terjadi pada remaja Hitler dan Kartini. Sedangkan Virginia Woolf yang sudah dewasa dan menjadi penulis sesuai karunia yang ada pada dirinya, tak pernah berhasil menjadi jiwa yang bebas dari neurosis, yang telah ia derita sejak remaja juga. |