| “Ayah, mengapa Ayah memilih menjadi tukang sapu, bukan pelukis sungguhan?” Representasi keingintahuan Alissa kecil atas keputusan ayahnya memilih tukang sapu sebagai pekerjaan daripada menjadi pelukis. Rasa ingin tahu Alissa kecil tidak hanya terbatas pada pilihan pekerjaan ayahnya. Alissa juga punya keinginan untuk mengetahui siapakah gadis yang ada di dalam lukisan ayahnya. Alissa pun memberanikan diri menjawab pertanyaan itu dengan perasaan: “Aku seringkali merasa akulah gadis yang duduk di atas batu karang itu, menyapu laut seperti ayahku menyapu daun-daun di halaman rumah sakit dan orang-orang tak tahu ia menggenggam medali dari Menteri Kebudayaan.”Trauma masa kecil masih membayangi Alissa hingga dewasa. Setelah ayahnya meninggal dunia, sosok sang ayah selalu membayangi perjalanan hidup Alissa. Alissa pun seakan-akan tersedot pada kebutuhan pemenuhan obsesi akan sang ayah.Secara spesifik editor David Tobing menyorot gejala yang secara relatif dominan hadir di dalam kumpulan cerpen Lukisan Ayah (LA), yakni seksualitas, obsesi akan kematian, penderitaan, dan fantasi. Satu kata kunci yang dapat menampung serta, barangkali menafsirkan, aneka gejala tadi adalah kajian psikoanalisa. Fokus kajian psikoanalisa dikhususkan untuk mendeteksi status kejiwaan tokoh yang kerap kali hadir sebagai pengisah. |